Sajak Muhamad Rifqi
Seorang pemuda yang mimpinya belum juga ditemukan
pagi menyapa seorang pemuda yang tak jelas jalan hidupnya, hidup hanya sekedar hidup mengikuti arus mengalir kemana akan membawanya.
disuatu bangunnya bernafaskan embun yang penuh pagi, pemuda itu masih terombang-ambing bagai air di daun talas tak tentu arah, tak ada harapan dalam semoga, diary impian pun masih kosong melompong.
dalam secangkir kopi bercampurkan susu pemuda melihat ada harapan dari tegukannya, "yah minimal saya mendapatkan sedikit semangat sebagai bekal sampai matahari larut dalam senja sebab pekerjaannya telah selesai"
setelah habis secangkir kopi ia bergegas bergerak dalam diamnya apa yang harus segera dilakukan hari ini sebagai perisa masa depan, tersebab masa lalu yang masih hambar, seiring detak jam berjalan tak terasa senja menemuinya dalam keadaan kosong, kosong dari perisa, kosong dari mimpi yang mungkin bisa diwujudkan dalam tidurnya.
pemuda yang tak jelas jalan hidupnya lagi-lagi hanya membawa kekecewaan dalam ruang kosong melompong keadaan yang membuatnya mulai terbiasa, pemuda memilih untuk kembali memejamkan mata dengan harapan dam semoga ada impian dalam nafas embun pagi esok.